Pasar keuangan global memulai pekan dengan pergerakan signifikan di tiga aset utama, yaitu minyak mentah, dolar AS, dan emas. Meningkatnya ketegangan geopolitik di Ukraina dan Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi, memperkuat permintaan terhadap dolar sebagai aset aman, sekaligus menekan harga emas.
Harga Minyak Naik untuk Tiga Hari Berturut-turut
Harga minyak mentah melonjak hampir 2% hingga menembus level USD 93,3 per barel, menandai kenaikan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menuduh Rusia terus menyerang infrastruktur energi Ukraina, termasuk fasilitas produksi gas, meskipun sebelumnya terdapat upaya gencatan senjata sektor energi yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ukraina juga menegaskan akan terus melakukan serangan terhadap target-target Rusia.
Di Timur Tengah, situasi semakin memanas setelah Arab Saudi melaporkan serangan drone dan rudal jelajah baru menyusul serangan mematikan yang menghantam Bandara Riyadh. Selain itu, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak global. Meskipun ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia masih relatif kuat, pasar mulai mengantisipasi potensi gangguan pasokan jika konflik terus meluas.
Dolar AS Menguat karena Status Safe Haven
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, indeks dolar AS menguat ke level 102,5, mendekati posisi tertinggi sejak April 2025.
Investor semakin memandang dolar sebagai aset perlindungan (safe haven) ketika risiko global meningkat. Selain itu, pasar juga tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat, termasuk Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI), yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Saat ini, mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga kembali muncul untuk bulan Desember. Jika inflasi tetap tinggi, peluang kenaikan suku bunga akan semakin besar, sehingga berpotensi memperkuat dolar lebih lanjut.
Sementara itu, euro melemah akibat kekhawatiran fiskal dan ketidakstabilan politik yang terjadi di Prancis, memberikan tambahan dukungan bagi penguatan dolar.
Emas Terkoreksi setelah Tembus Puncak Mingguan
Berbeda dengan minyak dan dolar, harga emas justru mengalami tekanan. Setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan, emas turun ke sekitar USD 4.170 per ounce.
Pelemahan emas terutama disebabkan oleh menguatnya dolar AS. Secara historis, kenaikan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia tersebut.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat pada pekan ini, termasuk inflasi konsumen, inflasi produsen, dan data penjualan ritel. Apabila data-data tersebut menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, peluang kebijakan moneter yang lebih ketat akan meningkat. Hal ini dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS serta dolar, yang umumnya memberikan tekanan tambahan bagi harga emas.
Menurut ekspektasi pasar, peluang kenaikan suku bunga pada bulan ini relatif kecil, namun kemungkinan kenaikan pada pertemuan Desember masih sangat tinggi.
