ChatGPT Image 19 Agu 2026, 12.12.32

Market Review 19 Agustus 2026

Emas Tertekan Yield Obligasi
Harga emas kembali melemah di bawah $4.350 per ons setelah turun hampir 2% pada sesi sebelumnya. Tekanan utama datang dari kenaikan imbal hasil obligasi global, dengan yield obligasi AS tenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam 19 tahun. Selain itu, harga minyak yang terus naik akibat konflik AS–Iran menambah tekanan pada emas. Investor kini menunggu risalah rapat The Fed bulan Juli serta pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole untuk petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. Dalam jangka pendek, emas menghadapi tantangan dari yield tinggi dan inflasi yang masih persisten.

Minyak Mentah Menguat di Tengah Konflik Hormuz
Harga minyak mentah naik di atas $85 per barel, memperpanjang reli ke sesi keempat berturut-turut. Konflik di Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama, dengan serangan Iran terhadap kapal dagang dan blokade AS yang masih berlangsung. Data industri AS menunjukkan persediaan minyak turun 328.000 barel pekan lalu, setelah sempat melonjak lebih dari 9 juta barel sebelumnya. Kombinasi risiko geopolitik dan penurunan stok mendukung tren bullish minyak dalam jangka pendek.

Dolar AS Melemah ke Level Terendah 2 Bulan
Indeks dolar berada di sekitar 99,5, mendekati level terendah dua bulan. Pelemahan ini dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini, setelah data ekonomi AS menunjukkan pelemahan penjualan ritel dan sentimen konsumen. Investor menunggu risalah rapat Fed dan pidato Kevin Warsh di Jackson Hole untuk konfirmasi arah kebijakan. Meski melemah, dolar tetap didukung oleh kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian geopolitik terkait Iran.

Pound Inggris Tertekan Pasar Tenaga Kerja
Pound sterling melemah ke sekitar $1,352, turun dari level tertinggi tiga bulan di $1,354. Data menunjukkan tingkat pengangguran Inggris tetap di 4,9%, lebih tinggi dari perkiraan, sementara lowongan kerja turun ke level terendah sejak 2021. Pertumbuhan gaji sektor swasta juga melambat ke 2,8%, terendah sejak 2020. Kondisi ini memperkuat kemungkinan Bank of England menahan suku bunga, meski pasar masih memperkirakan adanya pengetatan menjelang akhir tahun. Fokus kini beralih ke data inflasi terbaru sebagai penentu arah kebijakan.