ChatGPT Image 29 Sep 2026, 11.12.30

Ketidakpastian AS-Iran Dorong Harga Minyak Terus Menguat

Harga minyak mentah kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan Selasa, dengan Brent bertahan di atas level US$93 per barel. Penguatan ini terjadi di tengah masih tingginya ketidakpastian terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang terus menjadi perhatian utama pelaku pasar energi global.

Sentimen positif bagi harga minyak muncul setelah sejumlah pejabat Iran menyampaikan keraguan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri ketegangan di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz sebelum pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman energi paling strategis di dunia.

Dalam perundingan terbaru yang berlangsung di New York, kedua negara dilaporkan belum mencapai kemajuan signifikan. Presiden Donald Trump bahkan dikabarkan menolak proposal terbaru dari Teheran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut. Meski demikian, terdapat sinyal diplomatik yang masih terbuka setelah laporan menyebut Washington sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran serta membuka akses terhadap dana yang dibekukan apabila terdapat kemajuan nyata dalam kesepakatan nuklir.

Di sisi lain, pasar juga menerima kabar positif dari Arab Saudi. Negara produsen minyak terbesar di kawasan tersebut dikabarkan telah berhasil memulihkan aliran minyak melalui jalur pipa East-West hingga sekitar 3,5 juta barel per hari setelah proses perbaikan selesai dilakukan. Jalur ini menjadi alternatif penting untuk menghindari pengiriman melalui Selat Hormuz.

Namun demikian, pemulihan pasokan dari Arab Saudi belum mampu meredam kekhawatiran pasar sepenuhnya. Investor masih menilai risiko geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor yang lebih dominan dibandingkan tambahan pasokan jangka pendek. Akibatnya, harga minyak tetap melanjutkan tren penguatannya.

Analisis Pasar
Pergerakan harga minyak saat ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi pendorong utama pasar energi global. Selama ketidakpastian mengenai hubungan AS-Iran dan keamanan Selat Hormuz belum menemukan titik terang, harga minyak berpotensi tetap berada pada level tinggi. Bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya impor energi dan inflasi domestik. Sementara itu, perusahaan sektor energi dan komoditas berpeluang memperoleh manfaat dari harga minyak yang lebih kuat dalam jangka pendek.