Generated Image February 12, 2026 - 2_06PM

Kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian terkait Iran mendorong penguatan dolar.

  1. Penguatan Mata Uang Dolar AS

Mata uang Dolar AS (AS) melonjak naik hingga mencapai level tertinggi dalam enam minggu terakhir terhadap Euro.
Penguatan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang dipicu oleh sektor energi, serta spekulasi bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve) di bawah pimpinan baru, Kevin Warsh, mungkin akan mengambil kebijakan yang lebih ketat (menaikkan suku bunga).

  1. Ketegangan Geopolitik & Harga Minyak

Ketidakpastian di Timur Tengah: Pernyataan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan AS perlu melakukan serangan lagi terhadap Iran sempat memicu ketidakpastian global.
Sebelumnya pada bulan Maret, penutupan Selat Hormuz oleh Iran sempat membuat harga minyak melonjak. Namun, pada perdagangan hari Selasa ini, harga minyak justru mengalami penurunan seiring munculnya harapan akan adanya perdamaian.

  1. Situasi Mata Uang Global Lainnya

Yen Jepang (JPY): Nilai tukar Yen melemah mendekati level 160 per Dolar AS, yang merupakan zona rawan intervensi. Pemerintah Jepang melalui Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan siap bertindak jika volatilitas mata uang terlalu ekstrem. Padahal, ekonomi Jepang dilaporkan tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal pertama.

Euro & Poundsterling: Kedua mata uang ini melemah terhadap Dolar AS karena para pelaku pasar memperkirakan kebijakan pengetatan moneter di Eropa dan Inggris tidak akan seagresif di AS.