Filosofi “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya” adalah salah satu prinsip yang paling menenangkan sekaligus memberdayakan, terutama ketika kita sedang berada di fase berproses dan ingin berkembang.
Dalam konteks pengembangan diri, filosofi ini bukan berarti kita bersikap pasrah atau menunggu nasib. Sebaliknya, ini adalah panduan mental yang sangat dalam. Berikut adalah makna dan aplikasinya ketika kamu sedang berjuang untuk bertumbuh:
1. “Setiap Orang Ada Masanya”: Obat dari Penyakit Membandingkan Diri (Stop Comparing)
Saat sedang berproses, musuh terbesar kita adalah melihat kesuksesan orang lain dan merasa diri kita tertinggal. Filosofi ini mengingatkan bahwa garis waktu (timeline) setiap manusia itu berbeda.
- Ada yang sukses di usia 20-an, ada yang baru menemukan puncak kejayaannya di usia 50-an.
- Pencapaian orang lain saat ini adalah masa mereka. Kamu tidak gagal, kamu hanya sedang berada di zona waktu persiapanmu sendiri.
- Aplikasi: Gunakan energi yang tadinya dipakai untuk insecure melihat orang lain, menjadi energi untuk fokus pada progres dirimu sendiri (1% lebih baik setiap hari).
2. Membangun Kesabaran dan Percaya pada Proses
Kata “masanya” mengisyaratkan adanya musim atau waktu yang tepat. Sebuah pohon buah tidak akan berbuah sebelum akarnya kuat dan batangnya kokoh.
- Proses yang sedang kamu jalani saat ini—jatuh bangun, penolakan, kelelahan, belajar hal baru—adalah cara semesta mempersiapkan kapasitasmu.
- Jika “masamu” datang terlalu cepat sebelum mental dan kapasitasmu siap, kesuksesan itu justru bisa menghancurkanmu.
- Aplikasi: Nikmati rasa sakit dan lelah dalam belajar. Pahami bahwa kamu sedang membangun fondasi agar ketika “masamu” tiba, kamu tidak mudah runtuh.
3. Persiapan Bertemu Kesempatan (Preparation meets Opportunity)
“Masanya” (kesempatan) pasti akan datang, tetapi pertanyaannya: Apakah kamu sudah menjadi “orangnya” ketika masa itu tiba?
- Filosofi ini menuntut proaktivitas. Kamu tidak bisa berdiam diri menanti waktumu tiba. Kamu harus terus berkembang, mengasah skill, memperluas networking, dan memperbaiki mindset.
- Aplikasi: Jadikan proses belajarmu sebagai bentuk “memantaskan diri”. Ketika peluang itu akhirnya terbuka, kamu sudah memiliki kualifikasi untuk mengambilnya.
4. “Setiap Masa Ada Orangnya”: Pentingnya Adaptasi dan Relevansi
Zaman terus berubah. Apa yang berhasil 10 tahun lalu, belum tentu berhasil sekarang. Tokoh yang hebat di masa lalu, mungkin tidak lagi relevan di masa kini karena tantangannya berbeda.
- Dalam konteks berkembang, ini berarti kamu harus fleksibel dan mau terus belajar (Long-life learning).
- Untuk menjadi “orangnya” di “masa” depan, kamu tidak bisa menggunakan cara lama. Kamu harus membaca tren, memahami teknologi baru, dan beradaptasi dengan perubahan.
- Aplikasi: Jangan kaku. Jika strategi belajarmu atau rencanamu gagal, ubah strateginya, bukan tujuannya. Teruslah perbarui versimu.
5. Pelajaran tentang Kerendahan Hati (Ego Management)
Bagi kamu yang sedang berkembang dan nantinya akan mencapai puncak, filosofi ini adalah rem untuk egomu.
- Pencapaian, jabatan, atau popularitas bersifat fana (sementara). Suatu saat nanti, masa kejayaanmu akan lewat dan akan digantikan oleh generasi atau orang baru (“setiap masa ada orangnya”).
- Aplikasi: Saat kamu berproses dan perlahan mulai sukses, tetaplah membumi. Jangan sombong. Dan ketika kelak waktumu sudah lewat, kamu bisa let go (melepaskan) dengan ikhlas dan bangga karena kamu pernah memberikan yang terbaik di “masamu”.
Kesimpulan untukmu yang sedang berproses:
Jadikan kalimat ini sebagai jangkar mental. Saat kamu merasa lelah dan ingin menyerah karena belum melihat hasil, katakan pada dirimu: “Ini belum masaku, ini masih masa persiapanku.”
Teruslah bertumbuh secara diam-diam, teruslah konsisten. Karena pada akhirnya, waktu tidak akan pernah mengkhianati persiapan yang matang. Waktumu akan tiba.
