Harga emas mengalami penurunan selama tiga sesi berturut-turut pada hari Selasa, terbebani oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS (Treasury) tenor 10-tahun yang mencapai level tertinggi dalam dua minggu. Kenaikan imbal hasil ini meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Meskipun ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan Israel sempat mereda setelah adanya seruan dari Presiden AS Donald Trump, kekhawatiran seputar inflasi dan potensi kenaikan suku bunga tetap tinggi.
Poin-Poin Penting:
Penurunan Harga: Harga emas spot turun 0,2% menjadi $4.319,98 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,4% ke posisi $4.344,30.
Proyeksi Suku Bunga: Goldman Sachs memproyeksikan bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tetap stabil sepanjang tahun 2026 dan baru akan memangkasnya pada tahun 2027 karena kuatnya aktivitas ekonomi dan pertumbuhan lapangan kerja di AS. Saat ini, para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang lebih dari 70% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Target Harga Dipangkas: Citi memangkas target harga emas jangka pendeknya dari $4.300 menjadi $4.000 per ons akibat ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi. Menurut Citi, tren penguatan emas belakangan ini akan sulit bertahan tanpa didukung oleh permintaan fisik yang kuat secara terus-menerus.
