Indeks dolar Amerika Serikat naik untuk sesi keempat berturut-turut pada Senin, mencapai 99,6—level tertinggi dalam dua minggu terakhir. Kenaikan ini terjadi menjelang keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) minggu ini, dengan pasar memperkirakan hampir 89% kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Jika terealisasi, langkah ini akan menjadi kenaikan pertama sejak 2023. Selain itu, para pelaku pasar menunggu proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed sebagai panduan arah kebijakan selanjutnya. Tekanan inflasi semakin meningkat akibat kenaikan harga minyak, memperkuat alasan bagi bank sentral untuk melanjutkan pengetatan. Kekhawatiran dari para CEO perusahaan teknologi terkait risiko kecerdasan buatan juga menekan pasar saham, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar. Penguatan terbesar tercatat terhadap yen Jepang dan dolar Australia.
Sementara itu, harga emas turun di bawah $4.300 per ons, menyentuh level terendah dalam lebih dari satu bulan. Penurunan ini memperpanjang tren negatif setelah tiga pekan berturut-turut melemah, dipicu oleh penguatan dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Pasar kini menilai probabilitas kenaikan suku bunga pada Rabu sekitar 90%, setelah data menunjukkan inflasi konsumen AS meningkat pada Agustus. Indikator inti inflasi mencatat laju tercepat dalam empat bulan terakhir, sedikit di atas perkiraan. Di sisi lain, harga minyak terus melanjutkan reli setelah Arab Saudi menutup jalur pipa utama akibat serangan drone, menambah kekhawatiran pasokan global. Bank of Japan juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada Jumat, di tengah harga energi yang tinggi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah diperdagangkan mendekati $102 per barel, setelah sempat menyentuh $105—level tertinggi dalam empat bulan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan kesediaan untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia jika Moskow melakukan hal serupa. Namun, ia meragukan komitmen Rusia untuk mematuhi kesepakatan tersebut, melemahkan klaim Presiden AS Donald Trump bahwa kedua negara telah sepakat menghentikan serangan. Penutupan jalur pipa strategis Arab Saudi yang menghindari Selat Hormuz semakin memperketat pasokan global. Serangan drone dari Irak merusak pipa East-West pada Kamis, memaksa pemerintah Saudi menutup jalur tersebut. Pertemuan diplomatik antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas situasi di Hormuz pun ditunda. Akibatnya, jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun drastis hingga hanya satu digit sepanjang akhir pekan.
