Penurunan Mingguan Terbesar: Indeks dolar AS () turun 0,6% dalam seminggu. Ini menjadi penurunan mingguan tertajam bagi greenback dalam hampir tiga bulan terakhir sejak awal April.
Data Nonfarm Payrolls di Bawah Ekspektasi: Pertumbuhan lapangan kerja AS di bulan Juni mendingin secara tajam. Hanya ada penambahan 57.000 pekerjaan, jauh di bawah prediksi pasar sebesar 110.000. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga merosot ke level terendah dalam 5 tahun terakhir (61,5%).
Spekulasi Suku Bunga Fed Berkurang: Akibat pasar tenaga kerja yang mendingin, para pelaku pasar mulai memotong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat. Probabilitas kenaikan suku bunga untuk pertemuan September turun menjadi 52% (dari sebelumnya 64%).
Dampak Terhadap Mata Uang Lain
Mata Uang Utama Menguat: Euro () bertahan di dekat puncak dua minggunya di $1,1442. Poundsterling () menguat 1,2% dalam seminggu, sementara Dolar Australia () berhasil memutus tren pelemahan empat minggu berturut-turut.
Napas Lega Bagi Yen: Setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam beberapa dekade, Yen Jepang () menguat hingga ke level 161,01 per dolar.
Waspada Intervensi: Kendati Yen menguat, investor tetap siaga penuh karena otoritas Jepang mengisyaratkan strategi baru yang lebih agresif dan tertarget untuk menekan para spekulan mata uang. Anggota panel pemerintah juga menyarankan Bank of Japan (BOJ) untuk terus menaikkan suku bunga secara bertahap guna memperbaiki depresiasi Yen yang berlebihan.
