Harga minyak Brent melonjak di atas $100 per barel, level tertinggi sejak Mei, seiring perang AS–Iran yang kian memanas. Iran menyatakan siap menghadapi konflik lebih intens, sementara Presiden Donald Trump memprediksi perang tidak akan berakhir hingga setelah pemilu sela November. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Emas bertahan di sekitar $4.400 per ons pada Kamis, menjaga kenaikan sesi sebelumnya. Investor menunggu rilis indeks harga produsen (PPI) AS untuk Agustus hari ini dan laporan inflasi konsumen besok, yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan Federal Reserve. Logam mulia tetap mendapat dukungan dari pelemahan dolar serta minat jangka panjang sebagai lindung nilai, meski tertekan oleh kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi.
Indeks dolar stabil di 98,8, berhenti dari penurunan sebelumnya, dengan pasar menanti data inflasi yang akan menentukan langkah Fed. Probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin minggu depan kini sekitar 60%, setelah data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Imbal hasil obligasi AS melonjak setelah Departemen Keuangan mengumumkan rencana buyback hingga $6 miliar untuk surat utang jangka panjang, meski jumlah tersebut mengecewakan sebagian investor yang berharap lebih besar.
