Gencatan senjata dua minggu dimulai, namun langsung muncul ketegangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Perbedaan klaim awal: Trump menyebut pembukaan penuh, sementara Iran menekankan hanya lewat koordinasi dengan militer mereka.
Gangguan lalu lintas kapal: Media Iran melaporkan tanker berhenti akibat serangan Israel di Lebanon; sementara AS menyebut klaim itu tidak benar.
Pembatasan kapal: Iran dikabarkan ingin membatasi hanya sekitar 12 kapal per hari, jauh di bawah rata-rata 130 kapal sebelum perang.
Posisi AS: Gedung Putih menegaskan penutupan selat tidak bisa diterima dan mendukung Israel yang menolak Lebanon masuk dalam gencatan senjata.
Rencana Iran mengenakan biaya: Dilaporkan akan mengenakan tarif sekitar $1 per barel minyak, dibayar dengan kripto. Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk “nasionalisasi parsial” jalur perdagangan.
Dampak pasar energi: Analis menilai dampak biaya mungkin terbatas, tetapi status Selat Hormuz tetap menjadi faktor paling kritis bagi harga energi global.
Kesimpulan: Perbedaan sikap AS–Iran membuat gencatan senjata ini rapuh, dengan Selat Hormuz sebagai titik konflik utama
