Federal Reserve (Fed) akhirnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, menandai kenaikan pertama sejak 2023. Keputusan ini diambil secara bulat oleh seluruh anggota FOMC, dengan alasan inflasi yang masih tinggi dan data ekonomi AS yang menunjukkan ketahanan konsumen melalui lonjakan penjualan ritel. Proyeksi terbaru juga mengindikasikan kemungkinan adanya satu kenaikan tambahan sebelum akhir tahun.
Langkah Fed langsung mendorong indeks dolar menembus level 100, tertinggi dalam hampir tujuh minggu. Penguatan dolar terjadi setelah pasar menilai prospek ekonomi AS lebih solid, dengan revisi ke bawah tingkat pengangguran dan revisi ke atas pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, komentar sebelumnya dari Ketua Fed Kevin Warsh sempat menimbulkan keraguan apakah bank sentral akan konsisten menggunakan suku bunga sebagai alat utama melawan inflasi, sehingga sempat memicu aliran dana ke emas dan mata uang aman lainnya.
Di pasar komoditas, emas bertahan di bawah $4.300 per ounce setelah sempat naik intraday. Kenaikan suku bunga dan sinyal kemungkinan pengetatan lanjutan menekan harga emas, meski ada sedikit dukungan dari penurunan harga minyak. Data inflasi inti AS bulan Agustus yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat pandangan bahwa tekanan harga masih belum mereda.
Sementara itu, harga minyak mentah turun di bawah $102 per barel, melanjutkan pelemahan dua sesi berturut-turut. Penurunan ini dipicu oleh kabar bahwa Arab Saudi berencana memulihkan sekitar setengah kapasitas pipa East-West dalam beberapa hari dan mengembalikannya ke operasi penuh dalam enam minggu. Pipa tersebut sebelumnya rusak akibat serangan drone, namun jalur alternatif melalui Selat Hormuz tetap aktif dengan dukungan militer AS. Data resmi AS juga menunjukkan penurunan persediaan minyak sebesar 640 ribu barel, lebih kecil dari perkiraan analis, dan berbeda tajam dengan estimasi API yang sempat memperkirakan kenaikan besar.
Kesimpulan
Kenaikan suku bunga Fed memperkuat dolar dan menekan emas, sementara harga minyak melemah karena prospek pemulihan pasokan dari Arab Saudi. Pasar kini menanti langkah lanjutan bank sentral global, termasuk keputusan Bank of England dan Bank of Japan, yang dapat menambah dinamika volatilitas lintas aset.
