Generated Image April 09, 2026 - 10_56AM

Selat Hormuz segera menjadi titik nyala utama pertama dari gencatan senjata Trump yang ‘rapuh’

Gencatan senjata dua minggu dimulai, namun langsung muncul ketegangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Perbedaan klaim awal: Trump menyebut pembukaan penuh, sementara Iran menekankan hanya lewat koordinasi dengan militer mereka.

Gangguan lalu lintas kapal: Media Iran melaporkan tanker berhenti akibat serangan Israel di Lebanon; sementara AS menyebut klaim itu tidak benar.

Pembatasan kapal: Iran dikabarkan ingin membatasi hanya sekitar 12 kapal per hari, jauh di bawah rata-rata 130 kapal sebelum perang.

Posisi AS: Gedung Putih menegaskan penutupan selat tidak bisa diterima dan mendukung Israel yang menolak Lebanon masuk dalam gencatan senjata.

Rencana Iran mengenakan biaya: Dilaporkan akan mengenakan tarif sekitar $1 per barel minyak, dibayar dengan kripto. Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk “nasionalisasi parsial” jalur perdagangan.

Dampak pasar energi: Analis menilai dampak biaya mungkin terbatas, tetapi status Selat Hormuz tetap menjadi faktor paling kritis bagi harga energi global.

Kesimpulan: Perbedaan sikap AS–Iran membuat gencatan senjata ini rapuh, dengan Selat Hormuz sebagai titik konflik utama