Generated Image February 23, 2026 - 1_15PM

“New tariffs, new uncertainty” di ING THINK

Tarif baru diumumkan Trump
Menggunakan Section 122 dari Trade Act 1974, memungkinkan tarif hingga 15% selama 150 hari.
Dapat diperpanjang atau diulang sehingga berpotensi menjadi instrumen tarif permanen.

Tujuan dan tantangan hukum
Tarif ini bisa dianggap hanya “smoke and mirrors” untuk memberi waktu menuju opsi lain seperti Section 301 yang lebih kuat secara hukum.
Section 122 jarang digunakan dan bisa menimbulkan masalah hukum karena tidak relevan dengan kondisi saat ini.

Hubungan dengan tarif yang sudah ada
Tidak menambah tarif sektor spesifik (Section 232) pada baja, aluminium, otomotif, dll.
Produk bebas bea di bawah USMCA serta komponen pesawat sipil tetap dikecualikan.

Dampak pada kesepakatan bilateral
Beberapa kesepakatan (misalnya dengan Swiss dan India) mungkin perlu direvisi karena merujuk pada tarif darurat yang sudah dibatalkan.
Kesepakatan dengan Uni Eropa makin rumit karena Parlemen Eropa menangguhkan persetujuan akibat konflik Greenland.

Outlook makro AS
Tarif rata-rata terealisasi sekitar 10,9% pada paruh kedua 2025, lebih rendah dari tarif rata-rata yang dikutip (17,3%).
Faktor penyebab: substitusi impor, lonjakan produk teknologi bebas tarif, kepatuhan USMCA, dan penghindaran tarif.

Inflasi barang impor naik, tapi dampaknya ke konsumen masih lambat sehingga tidak mengubah proyeksi inflasi maupun pertumbuhan. Fed diperkirakan tetap melakukan dua kali pemotongan suku bunga 25bp pada Juni dan September.

Tarif sebagai agenda permanen
Putusan Mahkamah Agung membatasi kekuasaan presiden, tapi Trump tetap berkomitmen pada kebijakan tarif.
Ketidakpastian meningkat, dengan risiko eskalasi lebih tinggi terutama terkait hubungan dengan Eropa.